Tuesday, November 06, 2007

Dedicated to Passionate Housewives

Tiga hari yang melelahkan, Jumat, Sabtu dan Minggu.

Mahasiswa semester I jurusanku punya project I dengan tema “The First Step to Be Entrepreneur” dimana acaranya ada Bazar, Business Competition dan Dance Competition.

Jauh-jauh hari sebelumnya, aku diundang sebagai juri untuk Business Competition bersama enam orang juri lainnya. Aku Ok karena acaranya hari minggu.

Tak kuduga dan tak kusangka, ternyata kakaku dan suaminya akan ke Balikpapan untuk mengikuti festival paduan suara selama 4 hari, mulai jumat sampai senin. Jadilah aku has a role as a lecturer and Single Mom.


Kehebohan dimulai pada hari Jumat, dimana Pak Dekan meminta aku untuk membantu memonitor acara Business Competition. Judulnya membantu tapi ternyata aku merasa menjadi tulang punggung acara itu. Mengkoordinir acara yang tidak kita ikuti dari awal amat sangat membingungkan. Aku ditanya untuk banyak hal yang enggak kuketahui dan semua membuatku bingung. Jam menunjukkan pukul 16.30 dan belum ada tanda-tanda bahwa aku boleh pulang diantara acara yang semakin rumit. Padahal jam 17.00 aku harus menjemput Carol dari kursus Sakamoto. Oh Tuhanku,…apa yang harus kulakukan? Mahasiswa selalu bertanya tentang segala hal. Seolah-olah aku panitia dan hanya karena aku dosen mereka, mereka mengganggap aku harus tau semua-semua, bah,…Dosen juga manusia man! Pukul 16.50, ide yang muncul adalah menelepon “dia” minta tolong untuk menjemput Carol (see, he is in the top of my mind now, when the troubles come then my database refer him to solve :-), untungnya dia mau namun dia lagi bersama Bapaknya. Wadow…masak Bapaknya ikut jemput ponakanku ke les? Aku nggak ada pilihan lain, karena sudah kepepet dan dia meyakinkanku ga apa-apa, akhirnya aku merasa tenang menerima pertolongannya. Telepon kututup dengan ucapan “Entah dengan cara apa aku bisa membalas semua kebaikan hatimu” :P


Jam 17.30 Dia sms, bahwa Carol sudah diantar sampai rumah dengan selamat.


Tak ada yang bisa kukatakan, kukirimin dia sms,

“Mauliate Ito, jadi ingat lagunya Mariah Carey, then a hero comes along, with the strength to carry on and you cast your fears aside :-) Thx for being so helpful ya”


Entah apa yang terjadi sampai jam 21 aku belum pulang. Abangku (tulangnya Carol-red), anaknya abangku menyuruhku pulang melalui sms. Teror kecil mulai berdatangan menyuruhku pulang karena anak-anak hanya di temani si teteh di rumah. Sampai dari Jerman pun teror ikutan datang. Akhirnya, Jam 22 baru aku bisa sampai di rumah. Si kecil Jerry langsung menangis, Carol langsung marah-marah karena aku lama pulang, Cintani bilang aku harus mencari kertas manila untuk dibawa besok ke sekolah. Bah….aku cape mau mandi ga bisa, lapar karena dari siang belum makan. Oh Tuhan,…baru saja aku bisa menenangkan anak-anak dan siap mau mandi, Pak Dekan telepon bertanya macam-macam. Uh……….jam 24.15 baru aku bisa tidur.


Bangun jam 5 pagi menyiapkan anak-anak mau kesekolah. Maksain bangunin mereka dan sulit karena tadi malam aja mereka udah tidur larut. Payah,…namun akhirnya selesai juga. Jam 6.30 kami sampai di sekolah tapi enggak ada toko yang buka untuk beli kertas manila. Karena BT mikir harus sudah dikampus jam 7.00 aku marah sama Cintani kenapa kemarin nggak telepon butuh kertas manila biar aku bawa dari kampus. Dia menjawab sambil menahan nangis “kukira bule pulangnya cepat.” Ah aku nego aja ibu gurunya biar dia nggak dihukum pikirku, ternyata gurunya lagi Doa Pagi selesai jam 7.00. Duh…aku sudah harus dikampus jam 7. Dilema.

Aku bilang ke Cintani biarin aja dia dihukum, “sekali ini aja ya, kalau enggak nanti aku telp ibu gurumu dari kampus.” kubujuk dia. Dia mengangguk terpaksa karena dia tau emang aku nggak bisa diharapkan (perihnya hatiku). Dengan manisnya ibu-ibu yang sedang mengantar anaknya yang dari tadi melihatku menghampiriku dan berkata, “Disana ada toko loh dek, ntar jam 7 buka.” Aku jawab “iya bu, tapi aku harus sudah di kampus jam 7 pagi ini. Ada acara.”

Dia jawab “oh…ya sudah,...sini aku aja yang beli ntar kuantar. Kertas apa? warna apa? Siapa namamu? Kelas berapa?” tanyanya. Wah…Tuhan betapa baiknya engkau menciptakan ibu ini. “Oh makasih banget bu” kataku sambil menyerahkan uang 20rb. “ga usah ini banyak banget paling 2rb.” katanya. “oh ga apa-apa bu, ntar kembaliannya kasih aja sama Cintani.” Kataku terburu-buru. Secepat kilat aku menuju kampus dan sampai jam 7 tepat. Masalah lagi…masalah lagi…aku cape. Dari kampus kutelp Cintani Tanya apa si ibu baik hati itu antar kertasnya, dan dia bilang sudah. Aku kasian mendengar suaranya yang tertekan. Mungkin karena merindukan ibunya atau juga karena aku marahin pagi-pagi. Aku merasa bersalah kutanya ada kembalian duitnya enggak, karena dia bilang ada, untuk menutupi rasa bersalahku kubilang aja dia jajani tapi dibagi dengan kakanya (begitukah cara para ibu untuk menutupi rasa bersalahnya?)


Jam 10 si dia (hallah) telp, ngajak ke HiTech Mall. Wadow…kok banyak sekali cobaan ini. Kalau aku nggak mau kok kayaknya ga fair, secara kamis lalu aku udah ok kalau aku akan temani dia, kemarin juga dia jemput ponakanku. Betapa beratnya hidup ini. Aku bilang aja ga bisa sekarang, nanti aja sampai di rumah aku sms lagi apakah kita jadi pergi atau enggak, dan kalau pergi jam berapa.


Sampai di rumah jam 12 siang aku sms dia:

“Aku br smp rmh, cape…bgt…many problems with my students and I’m a single mom of 3 naughty kids. How a life! Kita harus pergi ya? Kalau iya, jam 2 aja ya.”

Dia balas:

“Wah aku kasian juga ito kecapean, cuma masalahnya minggu depan aku ke Medan jadi sabtu ga bisa jalan lagi. Ntar jam 2 aja ya. Mau ya :-)

Sempet-sempetnya aku sms dia lagi

“Wah…minggu depan ke mdn ya? I’ll be missing you dunk, jangan lama2 ya…hehehe…(ini adalah gombalan terkerenku di musim ini:-) yo wis berarti jam 2 ntar kita pergi”


nakal...nakal...nakal...


Yah, bagaimana lagi. Setelah memberi makan anak-anak jam 1 kuajak mereka tidur siang biar aku bisa pergi dengan merasa tenang. Untungnya semua kecapean dan langsung tidur siang.

Jam 2 tepat kami berangkat. Lihat ini itu dan macem-macem. Pas mau pulang kunci mobilnya ga ada. Kok bisa??? Dia suruh aku tunggu aja di parkiran, biar dia cari sendiri ke toko-toko yang kami singgahi. Akhirnya dia telp aku juga, menyerah. Ga ada. Well aku turun menemui dia lagi. Tanya security sambil kebingungan, eh…tiba-tiba dia naik lagi langsung ke parkiran ternyata kunci ketinggalan di belakang mobil karena pas kami melihat THR dari parkiran lantai 3 HiTech Mall, dia meletakkannya. Dia menjemputku lagi dan keliatan malu. Kucandain dia dengan berkata, “wah…otak ito keren banget ya, intel inside, core 2 duo pula, bahkan saat panik pun ito bisa berpikir jitu” wah langsung dia ceria dan bla…bla…bla…sampai cerita tentang WARKOP DKI segala ketika si Dono kehilangan Palu. Lucu juga nih anak, katanya ga suka film komedi :P

Sampai rumah jam 7, dia bilang mau langsung pulang karena harus perbaiki ban mobil. Ahem…emang dia harus menjelaskan kenapa langsung pulang? Jadi tersanjung hehehe….norak banget yak gue.

Malam itu kuisi dengan kegiatan penuh makna bersama ponakan-ponakanku tercinta. Beli coklat, makan bersama, ketawa-ketawa nonton extravaganza dan kuakhiri dengan dongeng Putri Berbudi Luhur (untuk menutupi rasa bersalah karena terlalu banyak meninggalkan mereka)


Minggu pagi kesibukan kembali. Bangun pagi aku beres-beres keperluan anak-anak, mau ke kampus lagi (Cape dewh…) Seperti biasa kalau sabtu minggu jerry pasti maunya dimandiin Bule. Setelah semua beres mereka ke gereja aku ke kampus. Jadi Juri seharian. Hebat-hebat anak SMA jaman sekarang. Hanya satu malam bahan presentasi hasil dari Selling Game kemarin sudah rampung. Lengkap dengan makalah dan power point dalam bahasa Inggris pula. Hebatnya….dan ada 1 kelompok dimana yang present seorang cewek yang sangat smart, confidence and Taft. Pada babak penyisihan dan Final aku selalu memberi team dia the highest score.


Pulang dari kampus jam 6 sore. Jerry langsung minta gendong 5 menit kemudian dia langsung tidur ternyata dia belum tidur siang. Anak-anak sudah mulai latihan acara natal.


Well, dengan kondisi begini, kayaknya kalau aku menikah, dan bisa punya anak, kayaknya punya 1 anak saja cukup. Dulunya aku selalu ingin 3 anak, namun sekarang 1 anak saja:-) itupun kalau aku bisa berikan yang terbaik. Semoga saja. Ternyata begitu sulitnya menjadi seorang ibu….

Terimkasih untuk para ibu, yang benar-benar mengusahakan yang terbaik bagi anak-anaknya :-)

No comments: