Wednesday, February 03, 2010

Sedang Membutuhkan Meditasi

Hampir 2 bulan terkahir ini, rasanya aku selalu menggerutu.
Menggerutu karena ada keputusan yang orang lain lakukan.
Menurutku dan menurut beberapa orang lainnya, keputusan tersebut amat sangat tidak masuk akal, tetapi aku dan orang lain itu harus menjalaninya.
Kalau aku memberi rating pada ketidakmasuk-akalan keputusan itu, maka aku akan memberikan rating ***** (5 bintang = tidak masuk akal tingkat tinggi)

Rasanya cape banget...
Energi terkuras,
Pikiran jadi ga beres.
Setiap ada kesempatan maunya ngomongin masalah itu saja.
Rasanya ruang dalam pikiranku terpenuhi masalah itu saja.
Menyebalkan memang.
Dan 2 bulan itu bukan waktu yang singkat (tanaman palawija aja usianya 3 bulan, kurang sebulan lagi panen deh hahahahakhakhak...)
Banyak hal baik yang harusnya bisa kulakukan, namun entah mengapa aku tak kuasa membuat jiwa dan pikiranku nyaman dengan keputusan yang menyebalkan itu.
Keputusan itu masalahnya tidak hanya satu.
Banyak Keputusan. Baik keputusan kecil maupun keputusan besar semuanya aneh.
Rasanya cape banget mikirinya sampe kadang kala terpikir untuk "quit."

Namun beberapa hari terkahir ini, ada sebuah pemikiran dalam diriku bahwa masalah dalam hidup ini selalu ada, begitupun orang-orang yang menyebalkan selalu ada.
Yang membuat kita bijaksana adalah bagaimana kita menghadapi masalah tersebut dengan baik agar kita menemukan jalan keluar yang baik bagi orang-orang yang terlibat dalam permasalahan tersebut.
Bagaimana kita menghadapi orang-orang yang menyebalkan tersebut, tanpa membuat kita juga menjadi menyebalkan dan berbuat dosa.
Lingkungan dan kondisinya tidak bisa kita kendalikan, yang bisa kita kendalikan adalah respon kita.

Rasanya dalam 2 bulan ini aku melakukan respon yang salah sehingga energiku terkuras dan tidak ada ruang yang tersisa dipikiranku untuk hal-hal positif.
Aku mau memperbaiki responku.
Beberapa hari terakhir ini, aku mendoakan masalah ini dengan lebih serius.
Berdoa agar aku mampu merespon dengan cara yang lebih baik.
Rasanya aku harus mengambil 1 hari untuk menenangkan diriku.
Mendoakan agar Tuhan memberiku kekuatan,
membangkitkan kembali motivasiku,
memperbaharui caraku merespon,
dan mengingatkan diriku pada panggilan hidupku.

Kuharap ini akan membuatku menjadi pribadi yang lebih baik,
dalam berbagai peranku.
Sebagai istri, sebagai anak, sebagai teman, sebagai rekan kerja dan sebagai Dosen.
Khususnya sebagai dosen, besar atau kecil aku sangat mungkin mempengaruhi cara berpikir orang lain (baca: mahasiswaku.)
Selalu ada kehidupan orang lain yang terkait denganku, khususnya sekarang ini ada keterlibatan yang sangat istimewa dan aku harus berusaha keras memberi sesuatu yang terbaik dari diriku karena itulah panggilanku.


Mel,

Hari Jumat depan akan cuti :-)
Waktunya bermeditasi.
Doakan aku ya teman-teman... *ninja warrior mode ON*

Tuesday, February 02, 2010

Bulan Cinta

Di bulan penuh Cinta ini, aku berkomitemen untuk mengisi hidupku dengan hal-hal yang baik dan penuh Cinta :D

Dan satu ayat yang mengantarkanku menjalankan bulan ini adalah:
"Tetapi aku senantiasa mau berharap dan menambah puji-pujian kepadaMu" (Maz 71:14)

Yes...
Aku memuji Engkau Tuhan, memuji kebesaranMU...
Engkau sangat AJAIB...

Thursday, January 21, 2010

Waktu Untuk Mencinta

Benar-benar deh dibulan januari ini waktu efektifku di rumah cuma 1 minggu, yaitu pada minggu pertama bulan januari ini. Bayangkan...cuma satu minggu.

Minggu kedua, aku harus catet harus mendampingi mahasiswa training leadership di pusdiklat brimop watukosek.
Mahasiswa yang ikut tahun ini lebih "gagah" dari tahun lalu :D
kalau tahun lalu ada mahasiswa yang pengen pulang karena pelatihannya terlalu sangar dan tempatnya jorok maka tahun ini mahasiswa tak satupun yang minta pulang.
Jadi beban yang berat sebagai dosen pendamping berkurang.
Benar2 kami mendampingi kegiatan aja, ga perlu jadi baby sitter.
Peran baby sitter hanya ketika mahasiswa pengen "dimanja" dikit2, dan itupun cukup wajar, secara pelatihan ini cukup berat bagi mereka.

Minggu ketiga, tepatnya mulai senin lalu, giliran aku yang training.
Training Applied Approach yang merupakan lanjutan training Pekerti.
Tahun ini instrukturnya dari ITS, contoh2nya banyak dari mata kuliah teknik.
Tapi secara instrukturnya ok dan pesertanya juga ok *kayak gue gitu* narsis mode ON :D, maka acaranya berjalan sukses.
Pelatihannya ga tanggung-tanggung dari jam 08 pagi sampai jam 10 malam. Breaknya hanya ketika makan saja, cape deh...
Tugasnya banyakkkkkkkkkkkkkkkkkk banget...
Belum lagi terima telepon2 mahasiswa yang gugup karena dosen pembimbing akademiknya ini ga ada di kampus padahal mereka pengen konsultasi.
Lengkaplah sudah bebanku :(

Dan mengingat minggu depan aku masih banyak pekerjaan, bahkan menyiapkan materi ajar pun belum mulai maka aku berusaha keras untuk menyelesaikan tugasku disini pada saat pelatihan ini. Dan syukurlah semua tugasku sudah tuntas...tas...tas...
Untung venue-nya ok punya.
Hotel Senyiur Prigen cukup mendukung untuk bekerja terus menerus, wifi juga tersedia.
So, thx to the organizers...

Trus...
Minggu depan, selama seminggu... catet seminggu, aku akan mendampingi mahasiswa yang akan skripski ke markasnya Marinir untuk mengikuti training leadership advance.
Duh.......

Dosen memang panggilan hidupku (menurutku),
dan sejak aku kuliah S1, ketika aku memikirkan kehidupan karirku dimasa yang akan datang, maka bayangku adalah "berdiri di depan kelas berdiskusi dengan mahasiswa"
saat itu aku tidak pernah membayangkan hal-hal teknis seperti ini.
Ketika aku sudah dosen tapi belum menikah, yang mana itu hanya satu setegah tahun, hal-hal begini tidak terlalu mengganggu bagiku.
Sekarang, hal-hal seperti ini sangat mengganggu bagiku, karena selain seorang dosen aku juga seorang istri, yang mana sangat tidak nyaman rasanya bagiku menyadari suamiku tinggal di rumah sendirian dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.
Meskipun sebenarnya suamiku bukan laki-laki yang cengeng.
Dia sangat mandiri dan 100% mendukung kegiatanku. Tapi rasa tidak nyaman itu muncul sendiri dari dalam diriku.
Cape deh...

Positifnya adalah, sekarang aku selalu berusaha mengisi waktu yang kulalui dengan lebih baik.
Sekarang, aku sangat jarang membawa pekerjaan ke rumah (kecuali benar-benar perlu)
Di rumah adalah waktu menikmati rumah dan pengisinya,
Di kampus adalah tempat bekerja,
Ketika bertemu teman-teman aku benar-benar menikmati pertemuan itu,
waktu menelepon ibu menjadi sangat nikmat,
dan ketika ada waktu luang untuk ngeblog maka akupun nge-blog :D
Benar adanya kata pengkhotbah 3 bahwa untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya...
dan waktu untuk mencintai adalah setiap detik...

I love You sweetheart ;-)

Sunday, January 17, 2010

Love is in the Air

Senang banget rasanya kalau sedang jatuh cinta…
Apalagi pas awal-awal tuh…
Rasanya…
Semua warna kelihatan jadi lebih cerah,
Kata-kata lebih merdu,
Menanti menjadi sangat mendebarkan,
Kala bertemu menjadi sangat begitu menyenangkan,

Sindiran terasa manis,
Pujian biasa terasa luar biasa,
Pandangan jadi taman cinta,
Dan kedipan menjadi bunga-bunganya…
Hal-hal sederhana begitu sangat indah,
Hal-hal rumit bisa disederhanakan sehingga semua menjadi indah kembali.

Hihihihi…
Some of my FB friends, recently in love,
The updated status variously described of their feeling
One said “mengapa memikirkanmu tidak pernah membuatku bosan?”
So sweet…isn’t it?
Other said “sampai sekarang masih senyum-senyum sendiri :-)”
Uh..ah..uh…can’t say anything more…
The other updated status was “rasa ini begitu indah”
Yes, exactly…you told it perfectly,
Rasa ini begitu Indah…

Uhhhhhhhh…mau…

Tuesday, January 05, 2010

"Kasih?"

Tidak baik ya ngomongin orang di awal tahun :D
Tapi aku tetap mau ngomongin orang hehehe...
Sebenarnya sih bukan ngomongin orang, cuma ngomongin betapa anehnya kadang cara orang lain dalam menunjukkan kasihnya dalam ikatan persaudaraan karena alasan "sedarah" dan tidak memiliki kasih karena tidak sedarah :(

Kami bersaudara yang sedarah (3 laki-laki dan 5 perempuan) "menurutku" cukup kuat ikatan persaudaraannya.
Kalau salah satu saudara menderita, maka yang lain pun ikut merasakan penderitaan.
Perasaan itu ditunjukkan dalam sikap saling menopang dan membantu.
Ya bantu doa, bantu urunan duit, bantu mencari jalan keluar dan bantuan-bantuan lain yang dibutuhkan.
Sebaliknya ketika satu saudara bersukacita, yang lain ikut bersukacita seolah-olah sukacita itu dialami sendiri.

Namun, meskipun perasaan kasih sayang dan senasib sependeritaan sangat erat, tetap aja kami masih tetap menjujung tinggi nilai-nilai kebenaran yang kami yakini.
Misalnya nih ketika dulu aku berpacaran dengan pria beda agama, saudara-saudaraku berempati terhadap perasaanku tetapi cukup keras menegurku untuk memberitahukanku "kebenaran" yang kami yakini.
Cara mereka memperlakukan aku dalam hubunganku saat itu, mampu mendukung aku membuat keputusan yang baik dan benar bagiku, bagi mantan pacarku dan bagi saudara-saudaraku.
Mereka benar-benar tau bagaimana bersikap sebagai saudara sedarah dan saudara dalam kebenaran.
Akhirnya, aku memutuskan hubunganku dengannya dan lucky me, eh blessed me...:D aku menikah dengan pria yang membuatku sangat bahagia hehehe...(Love You my Hubby...)

Aku teringat pada jaman aku kuliah dulu di Yogya,
Salah seorang adek teman kostku hamil diluar nikah.
Adeknya ini nggak kost bareng dengan kami.
Lalu, short long story, si adek yang hamil ini akhirnya ditanggungjawabi oleh laki-laki yang menghamilinya. Mereka berangkat ke kampung halamannya di Flores untuk menikah.
Yang membuatku heran adalah...
Kakanya memberangkatkan adiknya dengan gembira. Saudara-saudara yang lain juga datang untuk memberangkatkan si adik. Cipika-cipiki, peluk kanan-kiri, haha...hihi...dan gembira ria seolah-olah memberangkatkan calon pengantin yang masih suci tiada bernoda ke altar suci.
Mungkin bagi mereka atau orang lain tidak ada yang aneh dengan kejadian ini.
Tapi bagiku hal itu sangat aneh.
Anak yang diberangkatkan untuk kuliah ke Yogya, pulang dengan kehamilan diluar pernikahan?
Mengapa perbuatan itu "seolah-olah" disetujui oleh kakaknya dan saudara-saudara yang lain?
Bukankah menunjukkan penolakan (setidaknya pas diawal-awal) akan memberi pembelajaran kepada si adik dan anggota keluarga yang lain bahwa yang dia lakukan itu Salah?
Wih...coba aku yang begitu, mungkin digantung kali ya...

Trus ada lagi cerita, seorang Ibu 3 anak, istri dari seorang suami, flirting dengan suami orang lain.
Mereka kirim2an sms, email2an mesra (yang kalau anak SD pun membacanya pasti tau bahwa itu email yang tidak pantas).
Ketika si ibu 3 anak ini ditegur malah mencari pembenaran diri dan mengatakan bahwa pria itulah yang menggodanya (ya iyalah siapa juga yang mau disalahkan ya :D)
Dan ketika istri dari laki-laki yang diselingkuhi itu minta tolong pada adek si ibu 3 anak ini untuk menegur kakanya, malah si adek seperti menggampangkan masalah.
Menunjukkan seolah kejadian itu adalah hal yang lumrah (email2 mesra dan bernafsu itu just words menurut si adik).
Membenarkan perlakuan kakaknya dengan mengatakan "memang suami kakaku itu tidak romantis, jadi bla...bla...bla..."
Mengatakan bahwa ketertarikan seseorang dengan orang lain adalah hal yang wajar dan tidak seorangpun bisa melarang.
Emang itu benar tapi tidak pada orang yang sudah menikah, kalaupun pada orang yang sudah menikah harusnya orang tersebut mampu menahan diri karena tau itu dosa...
Hei....Tuhan melarang orang yang berselingkuh loh.
Hukum ke-8 kan bilang "Jangan Berzinah" :P
Kok bisa ya begitu?????
Kebayang kalau kakaku yang begitu, mungkin aku akan menyuci otak kakaku dan membawanya ke sidang keluarga, karena INI SANGAT SERIUS....

Yang terakhir nih,
Temannya temanku (lagi-lagi) di Yogya dulu, punya pacar. Temanku inisialnya N, temannya temanku itu inisialnya F. (Aku dan F cuma kenal-kenal gitu aja karena si N sama-sama teman kami).
Menurut si N, cowok itu pemakai narkoba dan dia tau dari temannya yang lain.
Lalu aku bilang dunk ke si N, "kasih tau si F lah bahwa pacarnya itu pemakai (karena si F belum tau). Cuma kasih tau aja masalah mereka mau pacaran atau enggak biar si F yang memutuskan."
Eh...si N jawab: "Enggak ah, ga enak ntar si F ngira aku ga ndukung dia, biarin aja saudara juga bukan...cuma teman ini"
What???? Aku ceramahin deh si N...macem-macem...
Cape deh...

Kasih itu harus melintasi hubungan darah N...bla..bla...
dan yang penting diingat:
"...kasih itu tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena KEBENARAN (I kor 13;6)

Cape mikirin orang, tapi ga cape kalau ada kasih :D


;)