Wednesday, July 31, 2013

Terpaksa


Dulu, ketika saya mendengar seseorang berkata bahwa dia "terpaksa" mengambil sebuah keputusan tertentu baik di dunia nyata atau ketika membaca cerita di buku atau saat menonton sebuah film, maka saya akan dengan sinis berkata, kalau "terpaksa," lalu mengapa kamu mengambil keputusan tersebut? 
Menurut saya, kalau pengambilan keputusan berada ditangan seseorang maka harusnya seseorang itu mampu membuat keputusan yg lain daripada mengambil sebuah keputusan yg terpaksa harus dilakukannya. 
Pemikiran ini mungkin berkembang karena kasus-kasus yg saya hadapi selalu berhubungan dgn kondisi, dimana si pengambil keputusan berkata "terpaksa" mengambil keputusan tertentu dengan suara yg tegar, mimik muka yg keras dn nyaris tanpa emosi, Berhadapan dengan seorang yg wajahnya memelas tak jarang menangis terisak-isak, tak berdaya, karena harapannya dimusnahkan dan dia harus menerima keputusan yg diberikan si pemberi keputusan. Sehingga ketika si pemberi keputusan berkata: "aku terpaksa melakukannya", maka aku dgn spontan berkata (meski kadang2 hanya dlm hati karena aku biasanya menghadapi kejadian seperti ini di film atau buku), kalau kamu si pembuat keputusan mengapa kamu hrs memutuskan sesuatu yg terpaksa kamu lakukan? Tidakkah kamu kasihan melihat orang di hadapanmu yg harapannya kamu pupuskan? Yang mimpinya kamu padamkan? Kenapa kamu tdk mencari alternatif keputusan lain yg tidak membuat dia menangis dan kamu pun tidak terpaksa melakukannya?

Sampai pada hari ini aku berada pada sebuah kondisi real, dimana aku harus mengambil sebuah keputusan. Keputusan yg terpaksa harus aku ambil. 
Aku melihat dia menangis di depanku, tersedu karna harapannya pupus karena keputusan yg kuambil. Dia memohon dan aku dengan wajah datar menolak permohonannya. Dia menolak dan meronta tdk setuju dengan keputusan yg kuambil dan dengan tatapan tajam aku diam, dan diamku berarti memaksa dia harus menerima keputusanku. 
Dia tak berdaya, dan aku tetap teguh pada keputusanku.
Yang dia tidak tau, (yang dulu aku pun tidak tau) hatiku tersayat-sayat. 
Betapa sesungguhnya...aku juga sangat tidak menginginkan semua ini terjadi. 
Tidak ada orang lain yg memaksaku untuk mengambil keputusan ini. 
Aku memiliki kemutlakan dalam memutuskan, tetapi aku oleh diriku sendiri, dengan segala pertimbangan spritual, emosional dan rasional terpaksa harus mengambil keputusan tersebut. 
Aku dipaksa oleh kebenaran. 
Kebenaran yg tidak hanya mengoyak harapannya tetapi juga mencabik perasaanku. Kebenaran yg tdk hanya membuatnya menangis tetapi juga membuat jiwaku tersedu. Kebenaran yg tidak hanya membuat mimpinya sirna tetapi juga membuatku merasa gagal. 
Kebenaran yg mungkin membuatnya merasa bahwa hidupnya berakhir pada hari ini ketika aku membuat keputusan, tetapi membuatku yakin, keindahan masa depannya dimulai hari ini.
Semoga pemilik kehidupan memberkati langkahnya.

Thursday, April 25, 2013

Alvaro dan Angelo

Kejadian lucu dengan kedua anakku kemarin pagi.
Bangun pagi si abang Alvaro masih pake baju tidur, masih setengah ngantuk berjalan keluar. Tiba2 ditaman kucing melompat dan si abang spontan berkata "ihhhhh cinga" maksudnya singa wkwkwkwk
Aku kasih tau, itu kucing bang yang suaranya meong bukan singa.
Memang anakku ini sangat menggemari binatang dan suaranya.
Dia suka menirukan suara2 binatang.
Oh ya Alvaro sudah sekolah loh di Play Group Bright Kiddies hanya 2 kali dalam seminggu sih sebagai wadah sosialisasi aja dengan teman.
Dia udah pintar main games di tab loh. Hebat dehhhhh

Kejadian lucu kedua adalah Angelo di pagi yang sama menutup telinga saat mendengar suara guntur. Sambil menutupkan kedua tangannya ketelinganya. Ahahaha memang kata mbak lasmi dia selalu begitu setiap mendengar guntur.
Hahaha kalau anak kecil pujaan hati mommy ini suka banget makan. Suka juga minum air putih. Sudah pintar bilang mam (makan), num (minum), nen (nenek; pengasuhnya yg dipanggil nenek) dan gigi. 
Begitu deh cerita terbaru kedua anakku yg ganteng2 itu heheheh....

Love them both so much *hug and kiss*







Wednesday, March 27, 2013

Menghormati Hak Orang Lain

Tanggal 8 April nanti, saya dan teman2 sekelas PhD program akan kuliah lagi. Block teaching lagi 8 hours per day *sick*
Jadi karena ada 2 tugas yang harus dikumpul yaitu academic writing dan research methodology maka keinginan saya menulis hal diluar tugas menjadi tinggi wkwkwkwk....

Ceritanya saya tadi pagi naik motor ke kampus.
Di pom bensin Citraland saya mengisi bensin dulu, minta full tank.
Ternyata full tank hanya Rp 12.265.
Saya bayar uang 15rb dan si mas-nya mengembalikan 3rb.
Saya heran, lalu saya kembalikan seribu ke si mas-nya dan dia bilang gpp bu bawa aja.
Saya ya ga enak dong, saya bilang jangan ini ambil aja gpp, kembalinya untuk mas saja.
Lalu dia menerima uang seribu itu dan teuteup maksa memberikan uang koin 500 ke aku.
Sudahlah, daripada panjang cerita akhirnya aku terima uang itu dan mengucapkan terima kasih lalu greng...greng....berangkat ke kampus.
Lain banget ya dengan gaya para kasir di berbagai supermarket dan hypermarket bahkan mini market di Indonesia.
Belanja di tempat mereka, selalu bikin BT kalau bayar dengan cash.
Belanjaan sejumlah misalnya Rp 53.275, jika dibayar dengan uang 55rb dengan santainya akan mengembalikan uang Rp 1.500,- atau kalau dia lebih baik sedikit dikembalikan Rp 1.700,-
Helloooooo uang saya 225 rupiah atau 25 rupiah dikemanain????
Biasanya saya juga akan ngotot minta kekurangan uang saya, sampai si kasir memandang saya dengan pandangan hina seolah2 saya adalah wanita paling pelit sedunia, atau pembeli lainnya memandang aneh seolah2 saya adalah orang miskin papa yang memaksakan diri belanja di pasar modern.
Baiklah...

Lalu, minggu lalu, pulang greja si mbak lasmi salah seorang yg mengasuh anak saya pas di mobil bilang "bu, itu bendera biru partai apa?"
Lalu saya jawab "itu bukan biru mbakkkkk itu hijau...partai PKB"
"oh..." jawabnya sambil tertawa malu.
Saya kemudian tanya lagi, "mbak dulu pas pemilu pilih partai apa? Saya boleh tau ga?" *saya takut dikira melanggar asas LUBER*
Dia jawab "oh saya PDI Perjuangan bu..."
wetz...sama dong dengan bapak kataku sambil ketawa2
"Eh mbak, dulu pas pemilu ada ga yang kasih duit di kampung mbak dan disuruh memilih partai tertentu" Tanya ku lagi.
"Ada bu...banyak" kata dia.
"Oh ya?" kataku terkejut "trus...trus...mbak terima ga duitnya?"
"Ya enggak bu... saya kan berdosa bu, kalau terima duitnya tapi ga memilih. Nanti kualat bu. Lebih baik saya ga usah terima aja, karena di kampungku itu kan kebanyakan PDI bu."
*fyi, si mbakku ini berasal dari Madiun.
trus "ada yg terima ga bu, uangnya?"
si mbak jawab "ya ga tau bu..mungkin ada ya. saya ga tau. saya sih yang penting ga ambil uangnya, karena ga enak bu, ambil uangnya tp ga milih. ga baik bu"
Hebat benar si mbak ini ya.... :D

Udah dulu ah, mau kerjain tugas :D

Saturday, January 26, 2013

Happy (very belated) New Year

Dipenghujung Januari 2013 ini, saya ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru, semoga tahun ini menjadi tahun yang penuh sukacita dan perdamaian bagi kita.
Lama banget ya ngucapinya :-) maklum akhir-akhir ini hidupku sangat dramatical.

9 Desember 2012 yang lalu ibu mertuaku meninggal dunia pada usia 61 tahun setelah terdiagnosa menderita penyakit kanker pankreas. Dimulai pada awal Agustus mertuaku merasa lebih mudah lelah, gula darah meningkat, susah bab, lalu dilakukanlah pengecekan. Hasil lab dan diagnosa dokter menyimpulkan bahwa ibu mertuaku akan bertahan hidup maksimal 6 bulan karena kanker pankreasnya. Setelah mencari 2nd, 3rd bahkan 4th opinion, hampir semua dokter mengatakan hal yang sama. Kami melakukan berbagai upaya penyembuhan dengan pergumulan emosional dan spritual yang sangat berat. Namun kehidupan dan kematian adalah otoritas Tuhan, sehingga meski belum siap kami harus menerima kenyataan bahwa 4 bulan setelah didiagnosa (lebih pendek dari 6 bulan) ibu yang sangat kami kasihi meninggalkan kami.
Desember yang seharusnya penuh sukacita, menjadi sarat dengan dukacita karena seorang ibu yang merupakan pusat kehidupan 5 anak (2 pria dan 3 wanita), 1 menantu yaitu saya dan 2 cucu yaitu anak kami (Alvaro dan Angelo), diminta kembali ke rumah Bapa di surga.

Lalu pada tanggal 23 Desember, 2 hari sebelum natal ibu lasmi dan dewi yang selama ini membantu kami, pulang ke rumah mereka masing-masing dan memutuskan tidak kembali lagi. Tentu saja kepulangan mereka memberikan pengaruh yang signifikan pada kami. Selama ini anak-anak bersama mereka di rumah ketika kami bekerja. Akhirnya anak-anak kami titipkan di day care. Kami menjalani hidup tanpa pembantu. Dan inilah aku seorang istri, ibu 2 anak laki-laki, dosen full time sekaligus ketua program studi IBM UC dan mulai januari tgl 19 menjadi full time PhD student di Universiti Utara Malaysia (UUM), Sintok negara bagian Kedah.
Untungnya structur program studiku adalah research, sehingga di kelas hanya butuh 1 semester, itupun kami padatkan menjadi kuliah 2 minggu di UUM, full day 8 hours per day, lalu akan dilanjutkan di surabaya selama 2 minggu full day juga, demikian seterusnya sampai jam utk 1 semester tepenuhi. Lalu independent study akan dilakukan.
Untungnya lagi adalah, aku memiliki suami dan kakak-kakak yang sangat mencintai dan mendukungku. Perkuliahanku di UUM kujalani dengan tenang karena anak-anak diasuh dan dirawat oleh kakaku yg pendeta di Depok. Bahkan kakakku yang di Jerman, memajukan cutinya sehingga kemarin tgl 25 sudah sampai di depok untuk membantu kakakku yang pendeta merawat anak-anak. Sungguh aku diberkati dengan saudara-saudara yang baik hati.

Tidak perlu takut menjalani kehidupan, karena sebenarnya Tuhan selalu menyediakan yang kita perlukan, baru setiap pagi. Meskipun sebenarnya hatiku resah minta ampun karena tidak ada pembantu tapi keyakinan pada kebaikan Tuhan selalu membuatku tenang.
Talking about PhD program yg sedang kujalani sangat menyenangkan dan menantang. Kerjaannya hanya membaca ribuan jurnal dr 4 or 3 grade journals, menulis, menganalisa, membaca, menulis, menganalisa dan begitu terus berulang-ulang : D itulah mengapa sekarang aku menulis di blog ini karena lebih menyenangkan daripada menulis sesuatu yg akademik hehehehe.... *enjoying my guilty pleasure.*

Thursday, December 06, 2012

4 years....

Waktu berlalu seasa sangat cepat. Katanya itu berarti aku sedang emnikmati hidupku :-)
Tiba-tiba saja beberapa bulan terakhir disibukkan dengan urusan sekolahnya abang Alvaro masuk play group.
Ambil cuti demi mengantar si abang untuk test ini itu.
Cari baju natal kembaran untuk abang dan adik, antar si abang kursus musik, cari sepatu krn yg lama kekecilan, duh pernak pernik anak tidak ada habisnya.

Baru nyadar hari ini sudah 4 tahun kami menikah...
Banyak kerepotan2, banyak perbedaan pendapat, banyak permasalahan. Banyak juga yang berubah. Ukuran pinggang wkwkwkwk, prioritas dlm hidup, cara menyelesaikan permasalahan dan lain-lain dan lain-lain. Satu yg tidak berubah, rasa di hati masih seperti dulu. Merindu ketika berjauhan, resah ketika tidak mendengar berita, bahagia ketika bersama-sama.
Rasa itu masih sama, semoga akan selalu begitu, selamanya.

ps: Every day I love you...